Drama
1 Babak
KORUPSI
DIBIKIN MATI OLEH MBA KUNTI
Oleh
Ghina Noviana Rahmawati
TOKOH :
PURWOKO : Menteri
Pembangunan Daerah Tertinggal Padamara (50 tahun)
SOPO : Asisten
Purwoko (27 tahun)
MBA
KUNTI : Hantu di ruang rahasia
POLISI
1 : Tubuh tinggi, berkumis (35 tahun)
POLISI
2 : Tubuh besar, gemuk, rekan polisi 1 (47 tahun)
PAGI
YANG HANGAT DI RUANG KERJA PURWOKO. RUANGAN BERUKURAN 4 X 4 M.
TERDAPAT SEBUAH MEJA DI BAGIAN TENGAH DENGAN RAK BUKU DI DINDING
BELAKANGNYA. SEBUAH LUKISAN KLASIK BALI MENGHIASI SISI KANANNYA.
DISANA, TERDAPAT 2 KURSI YANG SALAH SATUNYA DIDUDUKI OLEH SOPO YANG
TENGAH GELISAH MENUNGGU KEHADIRAN SESEORANG.
PURWOKO : (Membuka
pintu) Huh!
SOPO : Ada
apa, Pak?
PURWOKO : Tadi
di depan gedung ada banyak wartawan. Apa yang terjadi?
SOPO : Apakah Bapak
belum tau, kalau berita tentang dana pembangunan jembatan
‘Kalimampet’ yang telah kita korupsi sudah menjadi rahasia umum?
PURWOKO : Siapa
yang telah menyebarkan berita itu? (Marah)
SOPO : Saya
tidak tahu, Pak.
PURWOKO : Kamu
punya solusi?
SOPO : Tidak,
Pak, saya kan baru pernah mengalami seperti ini.
PURWOKO : Dimana
kamu menaruh uang itu?
SOPO : Di
dalam tas ini, Pak. (Menyodorkan sebuah tas)
PURWOKO : Sebaiknya,
kita simpan dulu di tempat yang aman, lalu kita katakan pada masa
kalau kita tidak korupsi. Kita bilang itu hanya isu belaka. Lagipula
sebentar lagi proyek jembatan itu akan dimulai.
SOPO : Tapi,
dimana tempat yang aman?
PURWOKO : Saya punya
villa di kaki Gunung Slamet. Cepat antarkan saya kesana, sekarang!
SOPO : Baik,
Pak. (Mengambil kunci mobil)
TIBA-TIBA
TERDENGAR SUARA RIBUT DARI LUAR
SOPO : Bagaimana
ini, Pak?
PURWOKO : Saya punya
ruangan rahasia dibalik lukisan itu. Ayo kita sembunyi. (Penuh
semangat)
SOPO : (Mengikuti
Purwoko)
‘BRAAK!!’
PINTU TERBUKA
POLISI 1 : Keluar
kamu Pur! Kamu sudah tertangkap. Tidak bisa berkutik lagi.
(Mengarahkan pistolnya ke seluruh ruangan)
POLISI 2 : Ayolah
Pur! Semua bukti sudah mengarah padamu. Menyerahlah! (Berbicara
lantang)
PURWOKO : Aku
merasakan hawa dingin disini (Merinding). Bagaimana denganmu?
SOPO : Aku juga.
Sepertinya dari arah sana. (Menunjuk ke sebelah kanan Purwoko)
PURWOKO : (Gelisah)
Sudahlah, lupakan!
SOPO : Saya kira
ruangan rahasia Bapak luas, terang, nyaman. Eh, ternyata hanya
ruangan berukuran 1x1x1 meter tanpa penerangan.
PURWOKO : (Merinding)
Kamu yang meniup leherku ya?
SOPO : Bukan
lah. Untuk apa.
MBA
KUNTI : Hihihihihi.
PURWOKO : (Mencengkeram
tangan Sopo) Kamu dengar suara itu?
SOPO : Pastilah,
Pak. (Takut)
PURWOKO : Kamu
bawa hp kan? Coba terangi ruangan ini!
SOPO : Baik,
Pak. (Mengambil hp-nya)
PURWOKO : Ayo,
cepat!
SOPO : (Menyinari
seluruh ruangan. Matanya terbelalak)
PURWOKO : Ada
apa?
SOPO : Ha-ha-ha..Hantu!
(Dengan suara tertahan. Lalu pingsan seketika)
PURWOKO : Po! Sopo!
Kanmu kenapa? (Lalu menghadap kanan dan terkejut)
MBA
KUNTI : Hihihihihi. Akhirnya, setelah sekian lama, aku bisa bertemu
dan berbicara 4 mata denganmu.
PURWOKO : Siapa
kamu?
MBA KUNTI : Aku
adalah arwah dari orang yang menjadi korban kecuranganmu. Uang yang
kamu korupsi itu, membuat aku tidak bisa makan. Sampai-sampai aku
mati kelaparan. Amat mengenaskan.
PURWOKO : Untuk apa
kau menemuiku?
MBA KUNTI : Aku
masih menyimpan dendam padamu.
PURWOKO : Apa yang
kau inginkan?
MBA KUNTI : Nyawamu!
PURWOKO : Untuk apa?
Kamu kan bisa meminta uang sebanyak yang kau mau padaku.
MBA KUNTI : Tidak!
Nyawa dibayar nyawa! Aku sudah tidak butuh uangmu lagi sekarang.
PURWOKO : (Pasrah)
MBA
KUNTI : Bersiaplah menemui ajalmu, Pur! (Mencekik leher Purwoko)
PURWOKO : Hah, hah,
tolong! (Dengan nafas tersengal)
MBA
KUNTI : Sekarang, hutang nyawamu telah lunas. (Melihat mayat Purwoko)
POLISI 2 : Aku
menemukan pintu rahasia dibalik lukisan ini. (Memegang sebuah
lukisan)
POLISI 1 : Ayo kita
selidiki!
POLISI 2 : Lihatlah!
Disitu ada 2 orang tak sadarkan diri!
POLISI
1 : (Memeriksa nadi Purwoko dan Sopo) Tersangka sudah tewas. Tetapi
rekannya masih hidup.
POLISI 2 : Baiklah.
Rekan tersangka akan dijadikan sebagai saksi. Sekarang kita otopsi
mayat itu!
POLISI 1 &
2 : (Membawa mayat Purwoko)
0 komentar:
Posting Komentar