SKENARIO ELPIJI
Oleh Annisa Az Zahra
TOKOH :
PAK SABAR : Pedagang gorengan miskin
RIDHUAN : Mahasiswa jurusan Sosial Politik
PAK TIO : Preman
Perumahan Indah Sekali
BU DEWI : Ibu rumah tangga yang lebay dan doyan
ngegosip
BU ANI : Ibu rumah tangga
SORE HARI DI PEREMPATAN JALAN GAJAH MADA PERUMAHAN INDAH SEKALI TERLIHAT GROBAK
GORENGAN YANG SUDAH DIKELILINGI PENGGEMARNYA. GEROBAK ITU MEMANG SETIAP SORE
MANGKAL DISITU.
BU ANI : Pak
Sabar, saya gorengan tahunya Rp. 10.000 ya, (Sambil menyodorkan uang berwarna
kepadanya)
BU DEWI : Saya
gorengan pisang sama tahunya Rp. 15.000 (Menyodorkan uang sepuluh ribuan dan lima ribuan)
PAK TIO :
Kalau saya biasa ya Pak Sabar.
(Menyodorkan ang dua puluh ribuan, lalu duduk di bangku kursi)
PAK SABAR : (Mengambil
uang yang diberikan kepadanya) Iya sabar ya Pak,Bu. (Memasukan uangnya kedalam
kotak kecil)
BU ANI : Pak
Sabar pake gas yang berapa kilo? (Melihat ke bagian bawah grobokan tempat
menyimpan gas)
PAK SABAR : Kalau
untuk pedagang keliing seperti saya,biasanya pake yang 3 kg Bu, karena lebih
mudah dibawa dan harganya juga lebh murah.
Memang kenapa Bu?(Sambil membolak-balih gorengannya)
BU ANI : Enggak,
saya nyari gas yang 3 kg sekarang susah(Menerangkan)
PAK SABAR : Ooooooooo,,
(Kembali konsentrasi dengan gorengannya)
BU DEWI : Bener tuh Bu Ani, memang sekarang gas 3kg jadi
susah dicari aliyas langka (Menjelaskan dengan nada berlebihan)
PAK TIO : Iya
saya juga tadi pagi nonton erita diTV, katanya itu semua dampak naiknya harga
gas 12 kg. (Menjelaskan)
BU DEWI : Ooooo,
mengapa bisa seperti itu ya? (Nampak penasaran dan memandang Pak Tio )
BU ANI : Iya
mengapa seperti itu? (Tampak bingung dan penasaran)
DATANG RIDHUAN MAHASISWA TERPANDAI
SEKAMPUNG
RIDHUAN : Assalamu’alaikum
(jalan lebih mendekat ke grobokan
gorengan)
SEMUA : Wa’alaikumsallam
(Memandang ke arah Ridhuan)
BU ANI : Beli
gorengan Mas Ridhuan? (Tersenyum dan memandang Ridhuan)
RIDHUAN : Iya
Bu Ani, saya lihat dari jauh kelihatannya sedang asik ngobrol?(Duduk di bangku
plastik samping pak Tio)
BU DEWI : Iya
nih nak Ridhuan lagi ngobrolin gas, (Menjelaskan dengan nada berlebihan)
RIDHUAN : Gas
elpiji? (memandang Bu Dewi). Oiya Pak Sabar saya biasa ya, (Mengalihkan pandangannya
ke Pak Sabar dan menyodokan uang dua puluh ribuan.)
PAK
SABAR : Beres
mas, (Mengambil uang yang disodorkan) Gorengan tahu sama singkong Rp. 20.000
kan (Memasukan uangnya ke dalam kotak kecil)
RIDHUAN
: Iya
pak, (Tersenyum)
BU
DEWI : (Melanjutkan percakapan)
Ini nih nak Ridhuan, gas 3 kg sekarang langka (Mengadu ke Ridhuan)
PAK
TIO : Ini nih, mas Ridhuan
pasti tau kenapa itu bisa terjadi. Secara kan mas Ridhuan mahasiswa terpandai
sekampung ini (Nada memuji)
RIDHUAN
: Ooooo,
masalah itu, (Nampak tahu masalah itu) Semenjak harga gas 12 kg naik , gas 3 kg
menjadi langka bahkan harganya naik (Menjelaskan)
BU DEWI : Wah
kok bisa ya? (Penasaran) Mungkin semua ini karena pemerintah yang kerjanya
tidak becus (Nampak marah)
PAK SABAR : (Menyodorkankantok
kresek berwarna hitam berisi gorengan) Ini grengan Bu Ani sudah matang (Tersenyum)
BU ANI : (Mengambil
kantong kresek) Oiya, terima kasih pak,
PAK SABAR : (Tersenyum
ramah) Iya Bu.
BU ANI :
Saya duluan ya (Ke arah semua)
SEMUA :
Iya.
BU ANI PULANG
PAK TIO : Pemerintah
makin tahun makin ngawur ngurusin negara (agak marah)
RIDHUAN : Iya
pemerintah memang harus lebih perhatian terhadap masalah rakyatnya. Tapi ini
semua kan tidak sepenuhnya salah pemerintah. Ada juga oknum yang tidak
bertanggung jawab yang ikut-ikutan mengacaukan semuanya.(Menjelaskan)
BU DEWI : Maksudnya
oknum tidak bertanggung jawab? (Penasaran)
RIDHUAN : Ya
contohnya seperti ini bu, gas 12 kg sedang mahal sementara gas 3 kg tidak
terlalu mahal karena memang mendapat subsidi dari pemerintah. Para oknum itu
menginginkan keuntungan yang besar dengan cara menyuntikan gas 3kg ke dalam gas
12 kg. Hal itu yang menyebabkan gas 3kg langka.(Menjelaskan)
PAK TIO : Jadi
penyebab langkanya gas 3 kg karena para oknum tidak bertanggung jawab
membelinya dan menyuntikannya? (Ekspresi kesal)
RIDHUAN :
Tepat pak, (Tersenyum)
BU DEWI : Memang
mereka sangat jahat. Sudah pemerintahannya mobrak-mabrik ditambah oknum-oknum
yang kurang ajar itu ! (Marah)
PAK SABAR : Aduhh..(Muka
kesal dan kecewa)
RIDHUAN : Ada
apa pak ? (Penasaran dengan hal yang terjadi)
PAK SABAR : Gasnya
habis (Menjelaskan). Saya permisi cari gas ya (Pamit) Saya juga nitip dagangan
boleh? (Berharap)
RIDHUAN : Tentu
saja boleh pak, (Meyakinkan)
BU DEWI : Oiya,
Pak Sabar kalau mau beli gas di warung Koh Wan-Wan masih ada kayaknya. Kalau di
warung lain sudah habis (Menjelaskan)
PAK SABAR : Terima
kasih informasinya Bu Dewi (Tersenyum)
BU DEWI : Sama-sama
(Tersenyum)
PAK SABAR PERGI UNTUK MEMBEIL GAS
PAK TIO : (Memulai
pembicaraan) oiya mas Ridhuan, katanya naiknya gas 12 kg itu ada rekayasa
politik karena mau pemilu (memandang Ridhuan)
RIDHUAN : Jadi
begini Pak, memang ada beberapa pengamat politik yang mengatakan bahwa semua
ini hanyalah rekayasa politik karena sudah dekat dengan pemilu 2014. Tapi ada
juga yang mengatakan bahwa naiknya harga gas 12 kg itu memang karena pertamina
mengalamu kerugian dan harus menaikan harga gas 12 kg. Kalau untuk gas 3 kg
masi murah ya karena memang mendapat subsidi dari pemerintah. (Menjelaskan)
BU DEWI : Oooooo,,
jadi seperti itu (Nampak tahu sekarang)
RIDHUAN : Iya
bu, jadi para pejabat pemerintah yang saat ini sedang menjabat dan ingin
menjabat lagi, sekarang sedang sibuk mencari scenario untuk mendapat simpati
dari masyarakat, hingga masyarakan memilihya kembali. (Lanjut menjelaska)
BU DEWI : Oh
jadi seperti itu, yang saya dengar hanya sebagian-sebagian, jdinya kurang
jelas. Tai setelah dijelaskan keseluruhan oleh Nak Ridhuan sekarang jadi jelas.
Mas Ridhuan memang pandai.(Memuji)
RIDHUAN : Wah
jangan di puji seperti itu Bu, nanti saya terbang (Bercanda)
PAK TIO : Nanti
saya pegangin kalau Mas Ridhuan terbang (Tertawa)
PAK SABAR KEMBALI
PAK SABAR : Assalamu’alaikum (Muka murung)
SEMUA : Wa’alaikumsallam
PAK TIO : Dapatkan
Pak ? (Penasaran)
PAK SABAR : Tidak,
disemua warung sudah habis (Menyesal)
BU DEWI : Gimana
si Pak Sabar ! Kita udah nunggu lama ! (Marah)
PAK SABAR : Maaf
Bu Dewi. (Menyesal)
PAK TIO : Gimana
si ! Emang maaf bisa bikin gorengan matang ! (Marah)
RIDHUAN : Sudah
lah Pak Tio, Bu Dewi, Pak Sabar kan sudh minta maaf. Lagi pula memang kan
searang gas 3 kg langka. (Mencoba mendinginkan suasana)
PAK SABAR : Sekali
lagi saya minta maaf. Ini saya kembalikan uangnya(Menyodorkan- uang)
BU DEWI : Bukan
masalah uangnya Pak, (Mengambil uang yang disodorkan) Tapi kita kan sudah
menunggu lama, gimana si !
PAK TIO : Iya,
Pak Sabar itu tidak menghargai kami sebagai pembeli. Kami ii kan pembelinya Pak
Sabar, jadi kami ini rajanya Pak Sabar ! (Marah)
RIDHUAN : Sudah lah Pak Tio, Pak Sabar kan sudah
minta maaf! (Kesal kepada Pak Tio yang terus memarahi Pak Sabar)
PAK TIO : Heh
Ridhuan! Kamu itu anak kemren sore, tidak usah ikut campur! (Marah)
BU DEWI : Iya
banar! (Ikut-ikutan)
PAK TIO : (Menggulingkan
grobokan Pak Sabar) Ini balasan buat pedagang miskin yang tidak tahu diri!
(Marah)
RIDHUAN : Astaghfirullah,,
Istighfar Pak Tio! (Menghmapiri Pak Tio)
BU DEWI PULANG KARENATAKUT MELIHAT
PAK TIO MARAH
PAK TIO : (Menginjak-injak
grobokan Pak Sabar) Dasar tidak tahu diri ! (Pergi)
PAK TIO PERGI SETEAH MERUSAK
GROBOKAN
PAK SABAR : Astaghfirullah
(Menangis sambil menegakan grobokannya)
RIDHUAN : Sabar
Pak. (Membantu Pak Sabar menegakan
grobokannya)
PAK SABAR : Ini
satu-satunya sumber kehidupan saya dan keluarga saya (Menagis)
RIDHUAN : Sabar
Pak, Allah Maha Tahu. (Menegarkan Pak Sabar)
PAK SABAR : Terimakasih
Mas Ridhuan (Berjalan meninggalkan perempatan bersama Ridhuan)
RIDHUAN PUN MENGANTAR PAK SABAR PULANG DENGAN KEADAAN GROBOKAN YANG RUSAK PARAH.