Jumat, 28 Februari 2014

Naskah Drama 1 Babak - Ulfa Rohimawati


Drama 1 Babak
BOOM
Oleh Ulfa Rohimawati (9G/21)
TOKOH :
LUNA             : Adik Bella, pelajar SMA, usia 16 tahun, manja
BELLA           : Kakak Luna, pelajar SMA, usia 18 tahun, suka belanja
PAK TOMI     : Polisi yang menyamar sebagai penumpang biasa, usia 26 tahun
PAK ARDI     : Polisi yang menyamar sebagi supir bis, usia 25 tahun
KRIS               : Mahasiswa, usia 20 tahun
TERORIS       :Yang melakukan pengeboman di bis, mengenakan cadar dan didalam                      jubahnya tubuhnya dipenuhi kabel-kabel dan bom , laki-laki, usia 29 tahun                

DALAM SEBUAH BIS YANG TENANG, YANG SEDANG MELEWATI JALAN SEPI YANG DIIRINGI OLEH PEPOHONAN DAN JURANG , HANYA BERISI PENUMPANG SETENGAH BIS BAGIAN DEPAN YANG KEBANYAKAN TERTIDUR. ADA SATU ORANG YANG BERDIRI DI DEKAT SUPIR, DAN ADA PENUMPANG BERCADAR YANG DUDUK SENDIRI DI BANGKU BELAKANG.

BELLA           : Lun, nanti di Jogja temenin beli sepatu sama tas ya, katanya ada took lucu-
                          lucu     gitu..
LUNA             : Kita ke Jogja kan mau njenguk ibu sama ayah, bukan jalan-jalan
BELLA           : Tapi juga bisa jalan-jalan kan?
LUNA             : Terserah deh, aku mau tidur
BELLA           : (Menoleh ke arah Luna dengan cemberut)
                        (Dalam suasana tenang, tiba-tiba terdengar suara ledakan dari bangku-bangku kosong belakang)
LUNA DAN   : (Berdiri dan menghadap ke belakang degan terkejut)
BELLA
PAK TOMI    : Berenti DI! (Berlari ke belakang, lalu menodongkan pistol ke seorang  penumpang yang mengenakan cadar dan mengambil sebuah tombol ditangan teroris dan memborgolnya. Dilakukannya dengan gesit)
TERORIS       : (Membrontak)
PAK TOMI     : Diam! (Melepaskan cadar, kerudung, dan jubahnya, dan merusak bom yang melekat di tubuh teroris)
LUNA             : Hah! Yaampun! (Terkejut)
BELLA           : (Matanya melotot kaget)
PAK TOMI     : (Mengikat teroris ke tiang) Harap semua tenang, saya adalah seorang polisi yang sedang bertugas menangkap teroris ini bersama teman saya Ardi, dan bom sudah diamankan. Putar balik ke kantor polisi Di! (Berteriak ke Ardi)
PAK ARDI     : (Menyupiri bis menuju kantor polisi)
PAK TOMI     : Harap tenang, kami sudah mengikuti teroris ini, kami pastikan dia sendiri dalam bis ini, dan hanya ada satu om yang berbahaya dalam bis ini, yaitu bom pada badan teroris, tetapi.. (Pembicaraan terpotong)
LUNA DAN   : (Terjadi ledakan di kursi mereka, lalu berteriak dan keluar dari kursi)
BELLA
LUNA             : Ibu..!!
BELLA           : Aaa..!!
PAK TOMI     : (Sedikit terkejut) Tolong semuanya tenang dulu! Di, berenti dulu!(Berteriak ke Ardi)
PAK ARDI     : (Memberhentikan bis dan berlari ke belakang)
PAK TOMI     : Kamu gantiin aku jaga teroris ini (Menuju tempat duduk Luna dan Bella) kalian tenang dulu
BELLA           : Gemana sih, katanya gaada bom lain? (Masih agak terkejut dan sedikit marah)
LUNA             : (Masih sangat terkejut)
PAK TOMI     : Iya, tengin diri dulu, sini duduk dulu (Menuntun mereka ke kursi belakang yang kosong, lalu mengambil air mineral dari tasnya dan diberikan ke Bella dan Luna) ini minum dulu biar tenang.
PAK ARDI     : Semuanya harap tenang! Kita akan pergi ke polres untuk melaporkan kejadian ini, tetap saya harap selama dalam perjalanan kalian bisa tenang. Jika butuh air mineral ambil di kursi bagian depan
PAK TOMI     : (Mengambil suntikan berisi obat penenang dalam tasnya, dan memberikannya kepada Pak Ardi)
PAK ARDI     : (Menerima obat penenang yang diberikan Pak Tomi, lalu menyuntikannya pada teroris) Kalian tenang saja, teroris tidak sadarkan diri untuk beberapa saat.
PAK TOMI     : (Duduk di kursi seberang Bella, tetapi menghadap ke Bella) udah tenang?
PAK ARDI     : Aku berangkatin lagi bisnya ya (berbisik ke Pak Tomi dan berjalan menuju kursi supir)
PAK TOMI     : (Menoleh sebentar ke arah Pak Tomi) Udah tenang kan mba? Nah tadi itu saya belum selesai bicara, jadi maksud omongan saya tadi itu bom yang bebrbahaya hanya bom yang melekat pada tubuh si teroris yang dapat meledakan bis dan seisinya, tetapi ada kemungkinan banyak bom-bom lain yang hanya untuk menakut-nakuti saja, seperti yang ada di kursi mba itu (menunjuk ke kursi tadi), tapi sekarang sudah aman karena si teroris tidak sadarkan diri.
KRIS               : (Dari tadi ikut mendengarkan penjelasan Pak Tomi) Jadi ledakan kaya tadi ngga berbahaya?
PAK TOMI     : (Menoleh ke arah Kris yang duduk di depan Luna) ya, paling hanya menimbulkan asap seperti itu (menunjuk kursi tadi)
BELLA           : Teroris kaya gitu tujuannya apa sih?!
LUNA             : (Menoleh ke belakang dan ikut mendengarkan)
PAK TOMI     : (Sedikit berfikir) secara umum, sebenernya mereka itu ngga setuju dengan sesuatu dan diselesaikan dengan kekerasan
KRIS               : iya sih, mereka ngga suka sama orang kafir trus mereka neror-neror gini kan, bilangnya jihad di jalan Allah
LUNA             : Emangnya mereka ngga masuk golongan kafir? Mereka juga mbunuh-mbunuh orang gitu
BELLA           : Kaya gitu jihad di jalan Allah!
PAK TOMI     : Sebenernya teroris itu kan sebutan bagi orang yang suka meneror, tapi setelah ada kejadian-kejadian seperti ini sebutan teroris lebih cenderung ke orang-orang muslim yang alirannya sangat keras bahkan mungkin bisa dibilang udah menyimpang ya
KRIS               : Hm.. ya saking ngerasa paling bener, mbunuhin orang jadi kegiatan yang halal ya, haha..
BELLA           : iya ya, sebenernya tuh mereka Cuma ngehakimin orang, padahal itu bukan tugas mereka
LUNA             : (Melirik ke arah teroris dengan sinis)
PAK TOMI     : Ya, makannya kalian harus hati-hati, kejadian kaya gini bisa terjadi dimana saja
LUNA             : Lho, kok bisnya berenti, ada apa? (sedikit takut)
BELLA,          : (menoleh ke jendela)
KRIS, DAN
PAK TOMI
PAK TOMI     : ternyata kita udah sampai, ya kalian bisa menunggu di kantor polisi, sekalian sebagai saksi, ayo turun (membawa teroris)
BELLA DAN : (Keluar bis)
KRIS
LUNA             : (Berjalan di belakang Bella)




Read more…

Senin, 17 Februari 2014

Naskah Drama 1 Babak - Annisa Az Zahra

Drama 1 Babak
SKENARIO ELPIJI
Oleh Annisa Az Zahra
TOKOH                      :
PAK SABAR             :           Pedagang gorengan miskin
RIDHUAN                 :           Mahasiswa jurusan Sosial Politik
PAK TIO                    :           Preman Perumahan Indah Sekali
BU DEWI                   :           Ibu rumah tangga yang lebay dan doyan ngegosip
BU ANI                      :           Ibu rumah tangga
SORE HARI DI PEREMPATAN JALAN GAJAH MADA  PERUMAHAN INDAH SEKALI TERLIHAT GROBAK GORENGAN YANG SUDAH DIKELILINGI PENGGEMARNYA. GEROBAK ITU MEMANG SETIAP SORE MANGKAL DISITU.
BU ANI            :      Pak Sabar, saya gorengan tahunya Rp. 10.000 ya, (Sambil menyodorkan uang berwarna kepadanya)
BU DEWI         :      Saya gorengan pisang sama tahunya Rp. 15.000 (Menyodorkan  uang sepuluh ribuan dan  lima ribuan)
PAK TIO          :      Kalau saya biasa ya Pak Sabar. (Menyodorkan ang dua puluh ribuan, lalu duduk di bangku kursi)
PAK SABAR   :      (Mengambil uang yang diberikan kepadanya) Iya sabar ya Pak,Bu. (Memasukan uangnya kedalam kotak kecil)
BU ANI            :      Pak Sabar pake gas yang berapa kilo? (Melihat ke bagian bawah grobokan tempat menyimpan gas)
PAK SABAR   :      Kalau untuk pedagang keliing seperti saya,biasanya pake yang 3 kg Bu, karena lebih mudah dibawa dan harganya juga lebh murah.  Memang kenapa Bu?(Sambil membolak-balih gorengannya)
BU ANI            :      Enggak, saya nyari gas yang 3 kg sekarang susah(Menerangkan)
PAK SABAR   :      Ooooooooo,, (Kembali konsentrasi dengan gorengannya)
BU DEWI         :      Bener  tuh Bu Ani, memang sekarang gas 3kg jadi susah dicari aliyas langka (Menjelaskan dengan nada berlebihan)
PAK TIO          :      Iya saya juga tadi pagi nonton erita diTV, katanya itu semua dampak naiknya harga gas 12 kg. (Menjelaskan)
BU DEWI         :      Ooooo, mengapa bisa seperti itu ya? (Nampak penasaran dan memandang Pak Tio )
BU ANI            :      Iya mengapa seperti itu? (Tampak bingung dan penasaran)
DATANG RIDHUAN MAHASISWA TERPANDAI SEKAMPUNG
RIDHUAN       :    Assalamu’alaikum  (jalan lebih mendekat ke grobokan gorengan)
SEMUA            :    Wa’alaikumsallam (Memandang ke arah Ridhuan)
BU ANI            :    Beli gorengan Mas Ridhuan? (Tersenyum dan memandang Ridhuan)
RIDHUAN       :    Iya Bu Ani, saya lihat dari jauh kelihatannya sedang asik ngobrol?(Duduk di bangku plastik samping pak Tio)
BU DEWI         :    Iya nih nak Ridhuan lagi ngobrolin gas, (Menjelaskan dengan nada berlebihan)
RIDHUAN       :    Gas elpiji? (memandang Bu Dewi). Oiya Pak Sabar saya biasa ya, (Mengalihkan pandangannya ke Pak Sabar dan menyodokan uang dua puluh ribuan.)
PAK SABAR   :    Beres mas, (Mengambil uang yang disodorkan) Gorengan tahu sama singkong Rp. 20.000 kan (Memasukan uangnya ke dalam kotak kecil)
RIDHUAN       :    Iya pak, (Tersenyum)
BU DEWI         :    (Melanjutkan percakapan)  Ini nih nak Ridhuan, gas 3 kg sekarang langka (Mengadu ke Ridhuan)
PAK TIO          :    Ini nih, mas Ridhuan pasti tau kenapa itu bisa terjadi. Secara kan mas Ridhuan mahasiswa terpandai sekampung ini (Nada memuji)
RIDHUAN       :    Ooooo, masalah itu, (Nampak tahu masalah itu) Semenjak harga gas 12 kg naik , gas 3 kg menjadi langka bahkan harganya naik (Menjelaskan)
BU DEWI         :    Wah kok bisa ya? (Penasaran) Mungkin semua ini karena pemerintah yang kerjanya tidak becus (Nampak marah)
PAK SABAR   :    (Menyodorkankantok kresek berwarna hitam berisi gorengan) Ini grengan Bu Ani sudah matang (Tersenyum)
BU ANI            :    (Mengambil kantong kresek) Oiya, terima kasih pak,
PAK SABAR   :    (Tersenyum ramah) Iya Bu.
BU ANI            :    Saya duluan ya (Ke arah semua)
SEMUA            :    Iya.
BU ANI PULANG
PAK TIO          :      Pemerintah makin tahun makin ngawur ngurusin negara (agak marah)
RIDHUAN       :      Iya pemerintah memang harus lebih perhatian terhadap masalah rakyatnya. Tapi ini semua kan tidak sepenuhnya salah pemerintah. Ada juga oknum yang tidak bertanggung jawab yang ikut-ikutan mengacaukan semuanya.(Menjelaskan)
BU DEWI         :      Maksudnya oknum tidak bertanggung jawab? (Penasaran)
RIDHUAN       :      Ya contohnya seperti ini bu, gas 12 kg sedang mahal sementara gas 3 kg tidak terlalu mahal karena memang mendapat subsidi dari pemerintah. Para oknum itu menginginkan keuntungan yang besar dengan cara menyuntikan gas 3kg ke dalam gas 12 kg. Hal itu yang menyebabkan gas 3kg langka.(Menjelaskan)
PAK TIO          :      Jadi penyebab langkanya gas 3 kg karena para oknum tidak bertanggung jawab membelinya dan menyuntikannya? (Ekspresi kesal)
RIDHUAN       :      Tepat pak, (Tersenyum)
BU DEWI         :      Memang mereka sangat jahat. Sudah pemerintahannya mobrak-mabrik ditambah oknum-oknum yang kurang ajar itu ! (Marah)
PAK SABAR   :      Aduhh..(Muka kesal dan kecewa)
RIDHUAN       :      Ada apa pak ? (Penasaran dengan hal yang terjadi)
PAK SABAR   :      Gasnya habis (Menjelaskan). Saya permisi cari gas ya (Pamit) Saya juga nitip dagangan boleh? (Berharap)
RIDHUAN       :      Tentu saja boleh pak, (Meyakinkan)
BU DEWI         :      Oiya, Pak Sabar kalau mau beli gas di warung Koh Wan-Wan masih ada kayaknya. Kalau di warung lain sudah habis (Menjelaskan)
PAK SABAR   :      Terima kasih informasinya Bu Dewi (Tersenyum)
BU DEWI         :      Sama-sama (Tersenyum)
PAK SABAR PERGI UNTUK MEMBEIL GAS
PAK TIO          :      (Memulai pembicaraan) oiya mas Ridhuan, katanya naiknya gas 12 kg itu ada rekayasa politik karena mau pemilu (memandang Ridhuan)
RIDHUAN       :      Jadi begini Pak, memang ada beberapa pengamat politik yang mengatakan bahwa semua ini hanyalah rekayasa politik karena sudah dekat dengan pemilu 2014. Tapi ada juga yang mengatakan bahwa naiknya harga gas 12 kg itu memang karena pertamina mengalamu kerugian dan harus menaikan harga gas 12 kg. Kalau untuk gas 3 kg masi murah ya karena memang mendapat subsidi dari pemerintah. (Menjelaskan)
BU DEWI         :      Oooooo,, jadi seperti itu (Nampak tahu sekarang)
RIDHUAN       :      Iya bu, jadi para pejabat pemerintah yang saat ini sedang menjabat dan ingin menjabat lagi, sekarang sedang sibuk mencari scenario untuk mendapat simpati dari masyarakat, hingga masyarakan memilihya kembali. (Lanjut menjelaska)
BU DEWI         :      Oh jadi seperti itu, yang saya dengar hanya sebagian-sebagian, jdinya kurang jelas. Tai setelah dijelaskan keseluruhan oleh Nak Ridhuan sekarang jadi jelas. Mas Ridhuan memang pandai.(Memuji)
RIDHUAN       :      Wah jangan di puji seperti itu Bu, nanti saya terbang (Bercanda)
PAK TIO          :      Nanti saya pegangin kalau Mas Ridhuan terbang (Tertawa)
PAK SABAR KEMBALI
PAK SABAR  :      Assalamu’alaikum (Muka murung)
SEMUA            :      Wa’alaikumsallam
PAK TIO          :      Dapatkan Pak ? (Penasaran)
PAK SABAR   :      Tidak, disemua warung sudah habis (Menyesal)
BU DEWI         :      Gimana si Pak Sabar ! Kita udah nunggu lama ! (Marah)
PAK SABAR   :      Maaf Bu Dewi. (Menyesal)
PAK TIO          :      Gimana si ! Emang maaf bisa bikin gorengan matang ! (Marah)
RIDHUAN       :      Sudah lah Pak Tio, Bu Dewi, Pak Sabar kan sudh minta maaf. Lagi pula memang kan searang gas 3 kg langka. (Mencoba mendinginkan suasana)
PAK SABAR   :      Sekali lagi saya minta maaf. Ini saya kembalikan uangnya(Menyodorkan- uang)       
BU DEWI         :      Bukan masalah uangnya Pak, (Mengambil uang yang disodorkan) Tapi kita kan sudah menunggu lama, gimana si !
PAK TIO          :      Iya, Pak Sabar itu tidak menghargai kami sebagai pembeli. Kami ii kan pembelinya Pak Sabar, jadi kami ini rajanya Pak Sabar ! (Marah)
RIDHUAN       :      Sudah lah Pak Tio, Pak Sabar kan sudah minta maaf! (Kesal kepada Pak Tio yang terus memarahi Pak Sabar)
PAK TIO          :      Heh Ridhuan! Kamu itu anak kemren sore, tidak usah ikut campur! (Marah)
BU DEWI         :      Iya banar! (Ikut-ikutan)
PAK TIO          :      (Menggulingkan grobokan Pak Sabar) Ini balasan buat pedagang miskin yang tidak tahu diri! (Marah)
RIDHUAN       :      Astaghfirullah,, Istighfar Pak Tio! (Menghmapiri Pak Tio)
BU DEWI PULANG KARENATAKUT MELIHAT PAK TIO MARAH
PAK TIO          :      (Menginjak-injak grobokan Pak Sabar) Dasar tidak tahu diri ! (Pergi)
PAK TIO PERGI SETEAH MERUSAK GROBOKAN
PAK SABAR   :      Astaghfirullah (Menangis sambil menegakan grobokannya)
RIDHUAN       :      Sabar Pak. (Membantu Pak Sabar menegakan  grobokannya)
PAK SABAR   :      Ini satu-satunya sumber kehidupan saya dan keluarga saya (Menagis)
RIDHUAN       :      Sabar Pak, Allah Maha Tahu. (Menegarkan Pak Sabar)
PAK SABAR   :      Terimakasih Mas Ridhuan (Berjalan meninggalkan perempatan bersama Ridhuan)
RIDHUAN PUN MENGANTAR PAK SABAR PULANG  DENGAN KEADAAN GROBOKAN YANG RUSAK PARAH.

Read more…

Kamis, 13 Februari 2014

Naskah Drama 1 Babak - Annisa Fathiatun Nabilah

Drama 1 Babak
KETULUSAN HATI NAOMI
Oleh Annisa Fathiatun Nabilah
TOKOH    :
CHLOE    :        Siswa Kelas IX SMP (14 tahun)
CHLEO    :        Saudara Kembar Chloe (14 tahun)
PAK FENDY    :        Ayah Chloe dan Chleo, bekerja sebagai Guru (45 tahun)
BU FENDY    :        Ibu Chloe dan Chleo, Ibu rumah tangga (42 tahun)
PAK RUDY    :        Tetangga Baru, bekerja sebagai Arsitek (46 tahun)
BU RUDY    :        Tetangga Baru, bekerja sebagai guru (41 tahun)
NAOMI    :        Tetangga Baru, anak angkat Pak Rudy (13 tahun)

SORE HARI YANG PANAS, DI TERAS RUMAH YANG ASRI DAN TEDUH, CHLEO DAN CHLOE SEDANG MENGERJAKAN PR. BUKU BERSERAKAN DI ATAS MEJA, CHLEO DAN CHLOE SANGAT SERIUS MENGERJAKAN PR DENGAN DUDUK DI KURSI. BEBERAPA KALI MEREKA MENGUAP KARENA BOSAN.
CHLEO    :     Chloe, kamu sudah berkenalan dengan anak baru yang tinggal di depan rumah? (Menunjuk rumah yang dimaksud)
CHLOE    :         Dia dan keluarganya kan baru pindah beberapa hari yang lalu. Jadi, aku belum mengenalnya. Tapi, Ayah dan Ibu bilang, keluarga itu berasal dari Jepang. Memangnya kenapa sih? (Membolak-balik buku catatannya)
CHLEO    :         Ya ampun, kamu belum mengenalnya? Dia kan anak baru di kelas kita. Masa kamu tidak tahu? Namanya Naomi Itano. Aku sudah berkenalan dengannya kemarin.
CHLOE    :         Yang benar? Menurutmu, Naomi itu anak yang seperti apa?
CHLEO    :         Dia cantik sih. Tapi menurutku, dia sepertinya sangat pelit. Saat aku berkenalan dengannya, ia langsung menyembunyikan roti yang sedang ia makan, padahal roti yang ia  makan adalah roti paling kecil yang di jual di kantin sekolah.
CHLOE    :        Cuma karena itu kamu menganggapnya pelit? Ckckck
CHLEO    :         Nggak juga sih. Aku melihat tempat pensilnya sangat kumal. Di dalam tempat pensilnya, aku lihat juga pensilnya sudah sangat pendek, ukurannya hampir sama dengan jari kelingkingku. (Menunjukkan jari kelingkingnya yang pendek) Penghapusnya juga sudah sangat kecil. Besarnya sama dengan biji kelengkeng. Aneh kan? Masa sih orang tuanya nggak mampu membelikan alat tulis?
CHLOE    :         Jangan begitu, kita belum mengenali Naomi lebih dekat. Pasti dia punya alasan untuk tetap menggunakan alat tulis itu.
CHLEO    :         Benar juga sih.
PAK RUDY    :         Assalamu’alaikum (Memencet bel)
CHLEO    :         Wa’alaikumsalam (Berlari dan membuka pagar)
BU RUDY    :         Permisi, Pak Fendy ada? Kami tetangga baru yang tinggal di depan rumah adik. Kami ingin bersilaturahmi.
CHLEO    :         Oh iya, sebentar. Chloe, tolong panggilkan ayah dan ibu. Silakan masuk Pak, Bu. (Membuka pagar rumah)
PAK RUDY    :         Terima kasih, Dik.
BU FENDY    :         (Keluar dari dalam rumah) Eh, Bu Rudy, Pak Rudy. Silakan.
PAK FENDY    :         (Keluar dari dalam rumah) Wah, Pak, Bu, silakan masuk.
CHLOE    :         (Keluar dari dalam rumah)
BU RUDY    :         Lho, kalian kembar? (Memperhatikan wajah Chloe dan Chleo) Cantik-cantik ya. Kelas berapa? Sekolah dimana?
CHLOE    :         Kelas IX, sekolah di SMP 1.
PAK RUDY    :         Anak kami juga kelas IX dan sekolah di SMP 1. Sebentar lagi dia menyusul.
NAOMI    :         Permisi (Masuk sambil membawa dua buah kotak)
PAK RUDY    :         Nah, itu dia. Naomi, ayo kesini!
NAOMI    :        Permisi, nama saya Naomi Itano, umur 13 tahun. (Membungkukkan badan)
BU FENDY    :         Wah, sopan sekali. Asli Jepang ya?
NAOMI    :        Iya. Oh iya, ini kue buatan saya sendiri. (Menyerahkan sebuah kotak)
BU FENDY    :         Hhmm, baunya saja sudah sangat enak. Apalagi rasanya.
PAK FENDY    :         Nah, sebaiknya para orang tua mengobrol di ruang tamu saja. Naomi, Chleo dan Chloe biar mengobrol disini saja. Mari Pak Rudy, Bu Rudy masuk.
NAOMI    :         Oh iya, ini untuk kalian. (Duduk di salah satu kursi)
CHLOE    :         Apa ini, Naomi? Sepertinya menarik.
NAOMI    :         Itu robot. Buatan ku sendiri, khusus untuk kalian.
CHLOE    :         Robot? Yang benar?
NAOMI    :         Iya, aku membuat robot-robot. Dulu sewaktu masih tinggal di Jepang, aku sudah diajari cara membuat robot. Dan ini semua bisa dijual.
CHLOE    :         Biasanya laku berapa?
NAOMI    :         Lumayan, setidaknya aku bisa membantu teman-temanku yang masih tinggal di panti asuhan di Jepang.
CHLEO    :         Teman-teman? Panti asuhan?
NAOMI    :        Iya, aku dulu tinggal di panti asuhan. Aku ini, sebenarnya anak angkat Pak Rudy dan Bu Rudy.
CHLOE    :     Oh, pantas saja namamu berbeda dari nama orang tuamu. Aku juga sempat bingung, Pak Rudy dan Bu Rudy terlihat seperti orang Indonesia asli.Tapi, kenapa anaknya orang Jepang asli?
CHLEO    :         Wah, ternyata kamu baik dan senang berbagi. Maaf ya,selama ini aku mengira kamu itu pelit.
NAOMI    :         Pelit? Hhhmm, teman-teman di kelas juga menganggapku begitu. Aku heran, aku kan hanya menghemat uang jajanku untuk membeli bahan-bahan untuk membuat robot. Tapi, kenapa mereka menganggapku pelit?
CHLOE    :         Lupakan saja, lambat laun mereka akan tau kamu yang sebenarnya.
CHLEO    :         Ngomong-ngomong, aku jadi ingin membantumu membuat robot. Bolehkan? Tapi, sebelumnya kamu harus mengajariku dulu!
CHLOE    :         Iya, aku juga. Selain itu aku ingin belajar bahasa Jepang agar bisa berkomunikasi dengan teman-temanmu.
PAK RUDY    :         (Keluar dari ruang tamu) Naomi, ayo kita pulang!
BU RUDY    :         Iya, sudah sore nih.
NAOMI    :         Baik, ayah, ibu. Chleo, Chloe, Pak Fendy, dan Bu Fendy, kami pamit pulang dulu…
CHLOE    :         Naomi, besok kita berangkat sekolah bersama ya!
NAOMI    :     (Mengangguk sambil melambaikan tangan)

Read more…

Naskah Drama 1 Babak - Saras Aprilia

Drama 1 Babak
DENDAM ANAK TIRI
Oleh Saras Aprilia (IXG/14)
TOKOH     :
RIANA        :  Usia 9 tahun, korban, pemilik boneka.
MAMAH RIANA    :  Usia 16 tahun, korban, ibu tiri arwah.
BU DHIANA        :  Usia 35 tahun, guru les Riana, saudara tiri Riana.
ARWAH        :  Hantu, anak tiri mamah Riana, saudara tiri Riana.
PAK RIO        :  Usia 35 tahun, pembasmi hantu, teman Bu Dhiana.
BIBI            :  Usia 40 tahun, pembantu.

PADA SUATU PAGI DI SEBUAH RUMAH YANG CUKUP BESAR, TINGGALAH SEORANG ANAK KECIL BERSAMA IBU DAN BIBINYA. DIA SANGAT KESEPIAN, IBUNYA SIBUK BEKERJA SEMENTARA AYAHNYA SUDAH MENINGGAL.
RIANA    : Mah... kita-kita jalan yuk! Inikan Hari Minggu (Menarik tangan ibunya)
MAMAH    : Riana kamu nggak lihat mamah lagi sibuk (Dengan nada setengah marah)
RIANA    : Tapi mah...
MAMAH    : Mendingan sekarang kamu mandi, bentar lagi guru les kamu dateng.
GURU LES RIANA DATANG
BU DHIANA    : Riana, kamu kok cemberut terus sih dari tadi?
RIANA    : Iya, mamah sibuk terus sama pekerjaannya, mamah juga marah terus (Sedih)
BU DHIANA    : Ya udah, mungkin mamah lagi capek, mendingan sekarang kita belajar aja!
RIANA    : Iya bu.
TIBA-TIBA BIBI DATANG
RIANA    : Bi, itu apa? (Nada penasaran)
BIBI    :  Ini mba, tadi bibi nemuin ini di depan, kayaknya sih paket kiriman buat    rumah ini, tapi nggak ada nama pengirim dan nggak tahu buat siapa (Bingung)
MAMAH    : Ada apa ini?
BIBI    : Ini bu, ada paket.
MAMAH    : Dari siapa?
BIBI    : Saya nggak tahu bu, tadi tiba-tiba dah di depan.
MAMAH    : Aaaaaaaaaa... (Kaget campur takut setelah membuka paket)
BU DHIANA    : Ada apa bu?
MAMAH    : Bi, cepat buang boneka itu! (Sangat takut)
RIANA    : Mah, jangan dibuang dong!
BU DHIANA    : Tunggu! Ini sebenarnya ada apa?
RIANA    : Bu, itu boneka aku tapi nggak tahu kenapa mamah selalu takut sama boneka itu dan nyuruh aku buat buang boneka itu jauh-jauh.
MAMAH RIANA PERGI MENJAUHI BONEKA ITU, DISUSUL BU DHIANA
BU DHIANA    :  Bu, sebenarnya kenapa ibu takut dengan boneka itu?
MAMAH    :  Ibu harus janji pada saya jaga Riana baik-baik, saya mohon.
BU DHIANA    :  Maksud ibu apa?
MAMAH    : Dulu beberapa menit sebelum suami saya meninggal dia bercerita kalau dia meninggal karena boneka itu, dalam tubuh boneka itu ada arwah anak suami saya dari isteri pertamanya, katanya dia ingin membalas dendam pada keluarga saya karena menurut dia saya telah menghancurkan kebahagiaan keluarganya.
BU DHIANA    : Maksudnya menghancurkan?
MAMAH    :  Sebelum suami saya menikah dengan saya dia telah memiliki isteri dan   seorang anak, namun akhirnya dia menikah dengan saya karena perjodohan, dan setelah kami menikah tiba-tiba isteri pertama suami saya meninggal karena kecelakaan, arwah itu kira saya yang telah membunuh ibunya, dan dia akhirnya juga meninggal karena sakit yang tidak ketahuan.
BU DHIANA    : Dan arwah itu masuk ke tubuh boneka milik Riana? Tapi, memangnya apa yang dia rencanakan atau lakukan untuk membalaskan dendamya?
MAMAH    : Dia akan menakuti korbannya, tapi hanya korbannya saja yang bisa merasakannya.
BU DHIANA    :  Maksudnya, seperti yang terjadi? Saat ibu teriak ketakutan melihatboneka itu, saya, Riana, dan bibi hanya biasa saja?
MAMAH    : Iya.
BU DHIANA    : Lalu, apa yang harus kita lakukan untuk menyingkirkan arwah itu, seperti yang kita tahu Riana sangat menyayangi boneka itu, bahkan sebelum arwah itu datang.
MAMAH    : Saya tidak tahu, yang jelas hanya anda dan bibi yang dapat melakukannya, karena hanya kalian lah yang saat ini bisa melindungi Riana.
RIANA MENGIKUTI BIBI SAMPAI KE TEMPAT BIBI MEMBUANG BONEKA ITU
BIBI        : Aduuuuuhhhh... aku buang sini saja deh! (Langsung pergi)
RIANA    : Riani, akhirnya ku dapatkan juga kamu. Kenapa mereka terus berusaha untuk membuang kamu ya? (Berbicara pada boneka sambil memeluknya)
TIBA-TIBA ARWAH DALAM BONEKA ITU MASUK KE TUBUH RIANA
RIANA    : Aaaaaaaa...
BU DHIANA    : Loh, itu seperti suara Riana?! (Kaget dan bingung)
MAMAH    : Iya betul bu, ayo kita ke sana!
BIBI    : Mba Riana, mba kenapa?! (Bingung campur takut)
MAMAH    : Ya ampun Riana, kamu kenapa nak?
RIANA    : Kamu harus mati... kamu harus mati... kamu harus membayar semuanya ( mendekati mamah Riana)
BU DHIANA    : Kamu... kamu bukan Riana kan?
RIANA/
ARWAH    : Hahaha... iya, aku disini untuk balas dendam, hahaha...
MAMAH RIANA MENCOBA LARI, NAMUN KAKINYA TIDAK DAPAT BERGERAK
MAMAH    : Ada apa ini? (Mulai takut)
RIANA/
ARWAH    : Haha... kamu tidak akan bisa lari.
BU DHIANA    : Bi, tolong cepat hubungi nomer ini! Katakan kalu saat ini saya membutuhkan bantuannya dan tolong cepat datang kesini.
BIBI    : Baik bu.
MAMAH    : Aaaa... tolong... tolong... (Terus berteriak)
RIANA/
ARWAH    : Tak ada yang bisa menolongmu sekarang.
PAK RIO YANG DIMAKSUD BU DHIANA DATANG DAN LANGSUNG MEMBANTU
RIANA    : Aaaaaa... ( Kesakitan karena serangan yang diberikan Pak Rio)
ARWAH KELUAR DARI TUBUH RIANA MENYERANG PAK RIO, RIANA PINGSAN
ARWAH    : Kurangajar, siapa yang berani padaku?
PAK RIO    : Hei arwah, pergi kamu sekarang! (Perintah Pak Rio)
ARWAH    : Aku akan pergi setelah mereka mati. (Nada membentak)
MAMAH    : Kamu harus tahu, ibumu mati bukan karena aku, tapi murni karena kecelakaan sementara pernikahanku dan papahmu itu juga karena perjodohan.
ARWAH    : Aku tidak percaya, dasar pembohong!
MAMAH    : Kamu harus percaya, aku jujur. Aku bahkan sangat sedih saat tahu ibumu meninggal.
ARWAH    : Aaaaaa (Langsung hilang dan musnah karena serangan mendadak Pak Rio)
PAK RIO    : Dia sudah tenang.
RIANA    : Aww. (Bangun dari pingsannya)
MAMAH    : Riana, maafin mamah ya. Sekarang kita akan seperti dulu lagi, hidup bahagia. (Memeluk Riana)
RIANA    : Mamah... (Bingung campur senang)
MAMAH    : Terimakasih Bu Dhiana, bibi, Pak...
PAK RIO    : Rio.
MAMAH    : Terimakasih Pak Rio.
PAK RIO    : Sama-sama bu, memang itu sudah tugas saya.
BU DHIANA    : Iya, saya senang bila ibu dan Riana senang.
BIBI    : (Tersenyum)

Read more…